Regulasi Perkuliahan Daring yang Kurang Mumpuni

Tajuk Opini

JAKARTA, PERISAI UP (28/10/21) – Beberapa waktu lalu Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud  Ristek) telah membuat regulasi mengenai Pembelajaran Tatap Muka (PTM) terbatas untuk kampus  yang berada di wilayah PPKM level 1-3. Hal ini menjadi angin segar bagi mahasiswa/i terkhususnya bagi mahasiswa Universitas Pertamina .  Sebelumnya, menurut surat edaran Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nomor  369-62/MPK.A/HK/2020, yang menyebutkan bahwa seluruh kegiatan belajar dan mengajar  dilakukan secara daring. Namun, dalam pelaksanaannya ditemukan berbagai macam kendala. 

Untuk melaksanakan perkuliahan dan belajar secara daring dibutuhkan perangkat yang memadai.  Tidak semua mahasiswa mempunyai fasilitas yang cukup menunjang untuk perkuliahan daring  seperti kepemilikan smartphone dan laptop, sehingga dalam pelaksanaan perkuliahan daring  kurang maximal. Selain dari sisi mahasiswa, pihak kampus juga sebagian besar nampaknya belum  memiliki kesiapan yang cukup untuk melaksanakan perkuliahan daring. Belum rampungnya teknis  dan sistem yang memadai dalam peralihan pembelajaran tatap muka menuju pembelajaran daring,  seperti sistem e-learning dan SIUP yang sering mengalami error. Hal ini justru menciptakan  polemik baru dan cukup menghambat mahasiswa dalam proses pembelajaran.

Sistem pembelajaran daring terutama saat praktikum juga menjadi hal yang harus dilakukan  evaluasi kembali. Selama perkuliahan daring, kegiatan praktikum hanya dilaksanakan dengan  menonton video yang sudah disediakan oleh pihak terkait. Hal ini nampaknya belum efektif  mengingat kegiatan praktikum ditujukan agar mahasiswa mempunyai kemampuan laboratorium  yang mumpuni sebagai bekal menghadapi dunia kerja nantinya. Namun, dalam pelaksanaanya  video yang diberikan seringkali kurang memberikan penjelasan detail serta kualitas (resolusi) dari  video yang rendah membuat mahasiswa cukup terhambat dalam memahami kegiatan yang  dilakukan pada praktikum. 

Tidak hanya praktikum saja, mahasiswa dari program studi Sosial dan Humaniora (Soshum) memiliki terkendala dalam melaksanakan kegiatan yang seharusnya dilaksanakan secara luring. Karena pandemik, maka kegiatan tersebut di alihkan secara daring atau bahkan ditiadakan. Ini menjadi kendala bagi mahasiswa karena tidak memiliki gambaran yang pasti mengenai mata kuliah yang sedang dipelajari dan belum bisa memahami secara keseluruhan. Terkadang , tidak jarang mengalami kesulitan dalam menghubungkan materi yang telah dipelajari dengan realitas yang terjadi karena tidak adanya praktik yang biasanya dilakukan secara luring.   

Dalam pelaksanaan mekanisme perkuliahan daring dengan menggunakan metode teleconference  seperti Ms.Teams dan zoom masih kerap kali dijumpai kendala. Beberapa dosen tidak memahami bagaimana cara mengoperasikan platform yang digunakan mahasiswanya. Hal ini menuntut  pemakluman-pemakluman agar saling memahami kondisi satu sama lain. 

Pandemi Covid-19 sepatutnya dapat dijadikan momentum yang tepat untuk merumuskan regulasi regulasi yang ideal mengenai Standar Operasional Prosedur (SOP) dalam pelaksanaan kuliah  dalam jaringan. Hal ini ditunjukkan agar kedepannya tidak terjadi peristiwa serupa serta terciptanya  sistem baik perangkat maupun SDM yang lebih mumpuni dalam perkuliahan daring.

NSK, SENJA

Editor : SENJA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Website Built with WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: